Sabtu, 12 April 2014

Tugas Bahasa Indonesia 2 Softskill ( Data )



Data

A.Jenis Data Menurut Cara Memperolehnya 

1.       Data Primer Data primer adalah secara langsung diambil dari objek / obyek penelitian oleh peneliti perorangan maupun organisasi. Contoh : Mewawancarai langsung penonton bioskop 21 untuk meneliti preferensi konsumen bioskop. 

2. Data Sekunder Data sekunder adalah data yang didapat tidak secara langsung
dari objek penelitian. Peneliti mendapatkan data yang sudah jadi yang dikumpulkan oleh pihak lain dengan berbagai cara atau metode baik secara komersial maupun non komersial. Contohnya adalah pada peneliti yang menggunakan data statistik hasil riset dari surat kabar atau majalah. 

A.    Macam-Macam Data Berdasarkan Sumber Data

1. Data Internal Data internal adalah data yang menggambarkan situasi dan kondisi pada suatu organisasi secara internal. Misal : data keuangan, data pegawai, data produksi, dsb. 

2.. Data Eksternal Data eksternal adalah data yang menggambarkan situasi serta kondisi yang ada di luar organisasi. Contohnya adalah data jumlah penggunaan suatu produk pada konsumen, tingkat preferensi pelanggan, persebaran penduduk, dan lain sebagainya.

B.     Klasifikasi Dara Berdasarkan Jenis Datanya 

1.Data Kuantitatif Data kuantitatif adalah data yang dipaparkan dalam bentuk angka-angka. Misalnya adalah jumlah pembeli saat hari raya idul adha, tinggi badan siswa kelas 3 ips 2, dan lain-lain. 

2.Data Kualitatif Data kualitatif adalah data yang disajikan dalam bentuk kata-kata yang mengandung makna. Contohnya seperti persepsi konsumen terhadap botol air minum dalam kemasan, anggapan para ahli terhadap psikopat dan lain-lain. 

C.     Pembagian Jenis Data Berdasarkan Sifat Data 

1. Data Diskrit Data diskrit adalah data yang nilainya adalah bilangan asli. Contohnya adalah berat badan ibu-ibu pkk sumber ayu, nilai rupiah dari waktu ke waktu, dan lain-sebagainya. 
2. Data Kontinyu Data kontinyu adalah data yang nilainya ada pada suatu interval tertentu atau berada pada nilai yang satu ke nilai yang lainnya. Contohnya penggunaan kata sekitar, kurang lebih, kira-kira, dan sebagainya. Dinas pertanian daerah mengimpor bahan baku pabrik pupuk kurang lebih 850 ton. 

E. Jenis-jenis Data Menurut Waktu Pengumpulannya 
1. Data Cross Section Data cross-section adalah data yang menunjukkan titik waktu tertentu. Contohnya laporan keuangan per 31 desember 2006, data pelanggan PT. angin ribut bulan mei 2004, dan lain sebagainya
2. Data Time Series / Berkala Data berkala adalah data yang datanya menggambarkan sesuatu dari waktu ke waktu atau periode secara historis. Contoh data time series adalah data perkembangan nilai tukar dollar amerika terhadap euro eropa dari tahun 2004 sampai 2006, jumlah pengikut jamaah nurdin m. Top dan doktor azahari dari bulan ke bulan, dll. 

4 Macam Tipe Data Statistik
Pengetahuan mengenai tipe2 data adalah penting di dalam statistika. Terdapat 4 tipe data, diurutkan mulai dari tingkatan terendah hingga tertinggi:
1.Nominal
 Digunakan untuk mengklasifikasikan informasi/data. Contoh:Data jenis kelamin = Laki-laki dan Perempuan. Biasanya, saat analisis data, tipe data spt ini dilambangkan dg bilangan numerik (angka).Laki-laki dilambangkan dengan angka 1, sedangkan perempuan dilambangkan dengan angka 0. Tidak berarti angka 0 lebih rendah dari angka 1, ingat!! cuma melambangkan saja.

2. Ordinal 
Digunakan untuk mengklasifikasikan serta memiliki tingkatan. Tipe data ordinal lebih tinggi dari Nominal karena kemampuannya untuk membentuk tingkatan. Contoh:Jabatan di dalam perusahaan = karyawan, manager, direktur utama. Misal, karyawan dilambangkan dengan 1, manager dg 2, dan direktur utama dengan 3. Pada tipe data ini, angka 1 dianggap lebih rendah dari angka 2, dst. Bisa saja karyawan dilambangkan dengan angka 1, tetapi manager angka 3 dan direktur utama dengan angka 10. Tipe data ini tidak mensaratkan jarak yang sama antar angka yang digunakan sebagai lambang. Yang perlu diperhatikan hanyalah bahwa angka 3 lebih tinggi dari angka 1, angka 10 lebih tinggi dari angka 3.

3. Interval 
Ciri khas dari tipe data ini, selain memiliki kemampuan mengklasifikasikan dan membentuk tingkatan, adalah tidak adanya nilai nol mutlak. Artinya, angka nol yg digunakan bukan berarti tidak ada. Contoh: Derajat suhu. Di dalam skala Celcius misalnya, Nol derajat Celcius bukan berarti tidak ada suhu. Nol derajat itu memiliki suhu, hanya saja dilambangkan dengan nol. Selain itu, jarak antar setiap angka yg digunakan adalah sama. Misal: di dalam kuesioner, ada tingkatan dari TIDAK SETUJU (lambang: 1) s.d. SANGAT SETUJU (lambang: 5). Jarak antara SANGAT SETUJU (5) dg SETUJU (4) adalah 1, yaitu 5-4=1. Jarak antara SETUJU (4) dg RAGU-RAGU (3) juga = 1, yaitu 4-3=1. dst.

4. Rasio 
Memiliki kemampuan dari ketiga tipe data sebelumnya, dan angka nol dianggap mutlak. Contoh: data berat badan (kg). Angka Nol kg berarti memang tidak ada berat. Tipe data nominal dan ordinal sering digunakan pada metode statistika nonparametrik. Sedangkan tipe data interval dan rasio cocok untuk digunakan pada metode statistika parametrik, asal asumsi yang dibutuhkan oleh metode statistika parametrik yang bersangkutan dapat dipenuhi.



Metode Pengumpulan Data
1.      Wawancara

“Wawancara adalah pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu dan dengan wawancara, peneliti akan mengetahui hal-hal yang lebih mendalam tentang partisipan dalam menginterprestasikan situasi dan fenomena yang terjadi yang tidak mungkin bisa ditemukan melalui observasi”.


2)  Observasi


Menurut Supardi (2006:88), “Metode observasi merupakan metode pengumpul data yang dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat secara sistematik gejala-gejala yang diselidiki”

.

3) Dokumentasi


Menurut Arikunto (2006:158), “Dokumentasi adalah mencari dan mengumpulkan data mengenai hal-hal yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, notulen, rapot, agenda dan sebagainya.”

4)  Studi Pustaka


 Menurut Nazir (1998 : 112) :


“Studi kepustakaan merupakan langkah yang penting dimana setelah seorang peneliti menetapkan topik penelitian, langkah selanjutnya adalah melakukan kajian yang berkaitan dengan teori yang berkaitan dengan topik penelitian. Dalam pencarian teori, peneliti akan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dari kepustakaan yang berhubungan. Sumber-sumber kepustakaan dapat diperoleh dari : buku, jurnal, majalah, hasil-hasil penelitian (tesis dan disertasi), dan sumber-sumber lainnya yang sesuai (internet, koran dll)”.

Jenis-jenis teknik pengambilan Sampel

1)  Teknik sampling secara probabilitas
Teknik sampling probabilitas atau random sampling merupakan teknik sampling yang dilakukan dengan memberikan peluang atau kesempatan kepada seluruh anggota populasi untuk menjadi  sampel. Dengan demikian sampel yang diperoleh diharapkan merupakan sampel yang representatif.

Teknik sampling semacam ini dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut.
a) Teknik sampling secara rambang sederhana atau random sampling. Cara paling populer yang dipakai dalam proses penarikan sampel rambang sederhana adalah  dengan undian.

b) Teknik sampling secara sistematis (systematic sampling). Prosedur ini berupa penarikan sample dengan cara mengambil setiap kasus (nomor urut) yang kesekian dari daftar populasi.

c) Teknik sampling secara rambang proporsional (proporsional random sampling). Jika populasi terdiri dari subpopulasi-subpopulasi maka sample penelitian diambil dari setiap subpopulasi. Adapun cara peng-ambilannya  dapat dilakukan secara undian maupun sistematis.

d) Teknik sampling secara rambang bertingkat. Bila subpoplulasi-subpopulasi sifatnya bertingkat, cara pengambilan sampel sama seperti pada teknik sampling secara proportional.

e) Teknik sampling secara kluster (cluster sampling) Ada kalanya peneliti tidak tahu persis karakteristik populasi  yang ingin dijadikan subjek penelitian karena populasi tersebar di wilayah yang amat luas. Untuk itu peneliti hanya dapat menentukan sampel wilayah, berupa kelompok klaster yang ditentukan secara bertahap. Teknik pengambilan sample semacam ini disebut cluster sampling atau multi-stage sampling.


LANGKAH-LANGKAH PENYUSUNAN KUESIONER


Menurut Meredith D. Gall (2003) Langkah-langkah  yang dilakukan dalam menyusun dan mengelola kuesioner penelitian
1.  Menentukan Tujuan penelitian
Mendefinisikan permasalahan  penelitian dan tujuan khusus yang akan dicapai atau hipotesis yang akan diuji dengan kuesioner merupakan hal penting  untuk dipertimbangkan oleh seorang peneliti sebelum mengembangkan kuesioner, agar memperoleh hasil sesuai dengan yang diharapkan.
D.A. de Vaus menyarankan lima jenis pertanyaan yang bisa digunakan untuk bertanya pada diri sendiri untuk tujuan ini. Beberapa hal di bawah ini berkaitan dengan topik yang disebutkan di atas dalam hal keterlibatan guru-guru dalam kemajuan peserta didik:
1. Kerangka berfikir apakah yang menarik bagi Anda? Apakah Anda tertarik pada keterlibatan guru-guru saat ini dalam kemajuan peserta didik, atau Anda ingin mempelajari tren dalam keterlibatan mereka selama periode setahun?
2. Apakah lokasi geografis yang menarik bagi Anda? Apakah Anda ingin para guru belajar dalam keadaan tertentu di suatu wilayah. Atau apakah Anda ingin membandingkan guru-guru di lokasi yang berbeda?
3. Anda tertarik dalam studi deskriptif yang luas atau Anda ingin menentukan dan membandingkan subkelompok yang berbeda? Misalnya, Anda akan membandingkan SD, sekolah menengah, dan guru-guru sekolah tinggi, atau akankah Anda belajar menjadi guru pada umumnya?
4. aspek dari topik apa yang ingin anda pelajari? Apakah Anda tertarik pada keterlibatan guru  jenis tertentu dalam kegiatan pengembangan peserta didik, apakah keterlibatan mereka wajib atau sukarela, atau waktu keterlibatan hanya selama beberapa periode tertentu?
5. Seberapa abstrak ketertarikan anda? Sebagai contoh, apakah Anda tertarik dalam pelaporan fakta, atau Anda ingin menafsirkan informasi, menghubungkannya dengan konteks sosial yang luas, atau mengembangkan teori dari hasil temuan?

2.  Menentukan kelompok sampel
Setelah tujuan atau hipotesis telah dinyatakan secara jelas, target populasi dari mana sampel akan dipilih harus diidentifikasi. Jika peneliti tidak tidak memiliki pengetahuan mendalam tentang suatu situasi , maka akan terjadi kesalahan pengiriman kuesioner pada kelompok yang tidak memiliki informasi yang diminta. Contoh : seorang mahasiswa pasca sarjana ingin mencari data tentang kebijakan keuangan sekolah, kuesioner dikirim kepada kepala sekolah dari sekolah dasar sampai sekolah menengah. Banyak kuesioner yang dikembalikan tidak lengkap. Kuesioner ini gagal karena kepala sekolah yang menerima kuesioner tersebut memiliki sedikit pengetahuan tentang topik ini, sehingga mereka tidak mampu memberikan informasi yang diminta.
Arti-penting dari isi kuesioner kepada responden yaitu mempengaruhi baik ketepatan dari informasi yang diterima dan tingkat respon.

3.  Merancang kuesioner
Beberapa kuesioner penelitian dilemparkan bersama-sama dalam satu atau dua jam. Pengalaman mengembangkan beberapa kuesioner  serampangan sebagai pendekatan penelitian telah menyebabkan penerima kuesioner tersebut banyak bersikap negatif, kemudian memasukkan  dalam kotak sampah dengan sedikit lebih cepat. Anda akan perlu untuk mengatasi sikap negatif dengan konstruksi hati-hati dan administrasi dari kuesioner Anda.
Panduan untuk Merancang Kuesioner
1.    Menghindari kuesioner yang singkat.
2.    Jangan menggunakan istilah teknis, istilah khusus, atau istilah kompleks yang tidak dapat dipahami responden.
3.    Hindari menggunakan kata-kata pertanyaan atau daftar pada formulir Anda. Banyak orang yang bias terhadap istilah-istilah ini.
4.    Membuat kuesioner yang menarik dengan teknik seperti menggunakan tinta berwarna cerah atau kertas dan pencetakan laser.
5.    Mengatur item sehingga mudah dibaca dan lengkap.
6.    Nomor pada halaman kuesioner dan item.
7.    Masukkan nama dan alamat individu kepada siapa kuesioner harus dikembalikan baik pada awal dan akhir dari kuesioner, bahkan jika amplop ditujukan diri disertakan.
8.    Kalimat yang singkat, instruksi yang jelas, dicetak dalam huruf tebal dan huruf besar dan kecil (Kata-kata yang huruf kapital semua sulit untuk dibaca.)
9.    Mengatur kuesioner dalam urutan yang logis. Sebagai contoh, Anda mungkin kelompok item dengan konten yang sama atau item bersama-sama memiliki pilihan respon sama.
10. Ketika pindah ke topik baru, termasuk sebuah kalimat transisi untuk membantu responden beralih melatih pemikiran mereka.
11. Mulailah dengan item yang menarik dan tidak terlalu memojokkan.
12. Kalimat yang sulit ditempatkan dibagian akhir kuesioner.
13. Jangan menaruh item penting di akhir kuesioner panjang.
14. Memberikan dasar pemikiran untuk item sehingga responden memahami relevansi mereka untuk penelitian.
15. Sertakan contoh bagaimana merespon item yang mungkin membingungkan atau sulit dipahami.
16. Hindari beberapa istilah seperti, kebanyakan, dan biasanya, yang tidak memiliki makna yang tepat.
17. Setiap item dinyatakan sesingkat mungkin.
18. Menghindari setiap pernyataan item negatif karena memungkinkan responden salah mengartikan. Kalimat negatif cenderung diabaikan, dan responden mungkin memberikan jawaban yang berlawanan dengan pendapat mereka yang sesungguhnya.
19. Hindari "makna ganda" item seperti itu memerlukan subjek untuk merespon dua gagasan yang terpisah dengan jawaban tunggal. Sebagai contoh: Meskipun serikat buruh yang diinginkan dalam bidang lapangan, mereka tidak memiliki tempat dalam profesi mengajar.
20. Ketika menggunakan pertanyaan umum bersamaan dengan pertanyaan khusus yang terkait, maka pertanyaan umum diajukan terlebih dahulu. Jika pertanyaan tertentu ditanyakan pertama, cenderung untuk mempersempit fokus responden saat menjawab pertanyaan umum yang berikut.
21. Hindari bias atau pertanyaan terkemuka. Jika diberikan petunjuk pada responden untuk jenis jawaban yang lebih disukai, ada kecenderungan untuk memberikan respon.
Menurut Hamid Darmadi (2011), untuk memperoleh item kuesioner yang baik, peneliti hendaknya memperhatikan beberapa persyaratan lain dalam membuat kuesioner
a.      Relevansi kuesioner: Relevansi pertanyaan dengan tujuan studi,  relevan pertanyaan dengan responden secara perorangan.
b.     Relevansi pertanyaan dengan studi: betul
c.      Relevansi pertanyaan dengan responden: betul.

Anonimitas
Dalam kebanyakan studi pendidikan, responden diminta untuk mengidentifikasi diri, namun dapat terjadi anonimitas untuk itu diperlukan informasi personal yang sangat pribadi sesuai dengan yang diminta. Sebuah kuesioner berkaitan dengan perilaku seksual akan mendapatkan tanggapan lebih jujur ​​jika responden tetap anonim.
Masalah utama dengan kuesioner anonim yang dapat meningkatkan perbaikan tingkat pengembaliannya tidak mungkin. Ada beberapa solusi untuk masalah ini. Salah satunya adalah dengan membuat lembar pengkodean  yang berisi kode untuk setiap individu dalam sampel. Kode ini ditempatkan dalam kuesioner Ketika seorang individu mengembalikan kuesioner, peneliti dapat memeriksa dari nama orang itu pada lembar kode . Setelah periode waktu yang ditentukan, peneliti dapat menentukan individu yang belum mengembalikan kuesioner mereka dan mengirim mereka kuesioner baru.
Metode ini tidak sepenuhnya anonim, karena peneliti dapat menghubungkan kuesioner untuk nama individu dengan nama individu pada lembar kode master. Peneliti dapat mengirim kartu pos prabayar individu secara terpisah.
Individu yang telah menyelesaikan kuesionernya , ia mengembalikan kuesioner dan kartu posnya secara terpisah. Kartu pos memberi tahu peneliti bahwa individual tersebut telah menyelesaikan kuesionernya,  tetapi ia tidak tahu yang mana dari kuesioner yang dikembalikan milik individu tersebut.

Bentuk Item
Menulis item untuk kuesioner mungkin tampak mudah, tetapi sebenarnya suatu bentuk seni. Anda harus mampu menulis secara ringkas dan jelas. Ini bukanlah hal yang mudah. Lebih penting lagi, diperlukan pemahaman yang baik tentang responden sehingga kita dapat menggunakan bahasa yang mereka mengerti, dan dapat memperoleh semua informasi yang dibutuhkan tanpa membuang waktu, dan agar item mendapatkan  respont secara  jujur.
Kesulitan utama dalam membangun item kuesioner adalah bahwa istilah pendidikan sering memiliki makna ganda. Untuk itu dianjurkan agar menyertakan definisi yang sesuai dengan tujuan penelitian.
Sebuah item kuesioner dapat berupa bentuk tertutup, yang berarti bahwa pertanyaan hanya memungkinkan respon yang pasti (mirip dengan pertanyaan pilihan ganda), atau bentuk terbuka, yang berarti bahwa responden dapat membuat respon mereka inginkan (mirip dengan pertanyaan esai).dengan bentuk yang digunakan ditentukan oleh obyektif dari sebuah pertanyaan.
Keuntungan dari merancang pertanyaan dalam bentuk tertutup adalah membuat kuantifikasi dan analisis hasil lebih mudah.
Untuk menentukan beberapa kategori yang digunakan dalam pertanyaan tertutup, dapat diberikan tes pertanyaan dalam bentuk terbuka dari sejumlah kecil responden. Jawaban mereka dapat digunakan untuk mengembangkan kategori untuk item bentuk tertutup. Jika Anda mendapatkan respon yang tidak biasa, "yang lain" bisa menyediakan pilihan yang lain.

Mengukur Sikap/ Perilaku
Kuesioner biasanya berisi item yang masing-masing dapat memberi sedikit informasi yang berbeda. Akibatnya, setiap item adalah suatu uji yang cukup untuk memuaskan ketika Anda sedang mencari fakta spesifik, seperti jumlah tahun untuk pengalaman mengajar, jumlah kemenangan dan kerugian selama masa melatih bagi seorang pelatih sepak bola, atau proporsi siswa gagal aljabar menengah. Ketika pertanyaan menilai sikap, bagaimanapun, pendekatan uji untuk satu item dipertanyakan sehubungan dengan validitas dan reabilitas. Sebuah kuesioner yang mengukur sikap umumnya harus dibangun sebagai skala sikap dan harus menggunakan sejumlah besar item (biasanya minimal 10) untuk mendapatkan penilaian yang dapat diandalkan sikap individu.
Jika Anda ingin mengumpulkan informasi tentang sikap, Anda harus terlebih dahulu melakukan pencarian literatur penelitian untuk menentukan  skala yang cocok untuk tujuan Anda sudah telah dibangun. Jika skala yang sesuai tidak tersedia, Anda akan perlu mengembangkan satu Skala Likert, yang biasanya meminta tingkat perjanjian dengan sikap item (misalnya, skala lima poin mulai dari "sangat tidak setuju") adalah jenis umum dari skala sikap.

Web Kuesioner
Para peneliti sering menggunakan World Wide Web untuk mengelola kuesioner
Berikut ini adalah ciri khas dari desain kuesioner dan proses administrasi yang digunakan oleh para peneliti:
1.      Guru login ke situs Web survei dengan menggunakan ID dan password yang ditunjuk untuk menghindari orang yang tidak berkepentingan menyelesaikan kuesioner tersebut.
2.      Guru merespon item skala Likert dan item bentuk tertutup  dengan mengklik "tombol radio" {fitur laman Web baru). Mereka merespon kepada ukuran  peringkat item dengan memasukkan nomor dan untuk item bentuk terbuka dengan  mengetikkan respon.
3.      Guru mengklik tombol SUBMIT, yang mentransmisikan data mereka ke server Web peneliti '. Jika seorang guru mengiklik item ini tanpa menyelesaikan seluruh kuesionernya,maka software akan memberitahu guru  item mana yang masih dibutuhkan diselesaikan.
4.      Data kuesioner aman di server Web peneliti, sehingga hanya programmer yang dapat melihatnya.
5.      Karena data mentah dalam bentuk elektronik, ini memungkin untuk mengimpor data tersebut langsung  ke software (perangkat lunak) statistik untuk analisis

4.     Menguji cobakan kuesioner
Sebelum kuesioner disebarkan kepada responden, ujicobakanlah lebih dahulu kepada sejumlah kecil responden. Ini gunanya untuk mengetahui validitas dan reliabilitas alat ukur dimaksud. Selain itu, ini juga bisa digunakan untuk mengetahui kemungkinan diterima atau ditolaknya hipotesis yang telah dirumuskan. Selain itu, jika ternyata dalam uji coba ini terdapat banyak kesalahan, maka peneliti bisa mengubah atau menyempurkannya.
Untuk memperoleh kuesioner dengan hasil yang mantap adalah dengan ujicoba. Sampel yang diambil untuk keperluan ujicoba haruslah sampel dari populasi di mana sampel penelitian akan diambil. Dalam ujicoba, responden diberikan kesempatan untuk memberikan saran-saran perbaikan bagi kuesioner yang diujicobakan itu. Situasi ujicoba dilaksanakan harus sama dengan situasi kapan penelitian sesungguhnya akan dilaksnakan.

5.     Komunikasi  awal dengan sampel
Para peneliti menemukan bahwa menghubungi responden sebelum mengirim kuesioner akan meningkatkan tingkat respon. Kontak awal  yang dilakukan  peneliti mengidentifikasi diri, mendiskusikan tujuan penelitian, dan meminta kerjasama. Kontak awal dapat dilakukan melalui surat, kartu pos, atau panggilan telepon, tetapi beberapa bukti menunjukkan bahwa kontak telepon adalah yang paling efektif. 

6.     Surat Pengantar Kuesioner
Tujuan utama dalam melakukan survei dengan kuesioner adalah untuk mendapatkan tingkat pengembalian yang tinggi.  Surat pengantar yang menyertai kuesioner sangat mempengaruhi tingkat pengembalian, oleh karena itu harus dirancang dengan hati-hati. Dalam surat pengantar dijelaskan maksud pengedaran kuesioner, jaminan kerahasiaan jawaban serta ucapan terima kasih kepada responden. Surat harus singkat, tetapi menyampaikan informasi tertentu. Tujuan penelitian dijelaskan sehingga memberikan pemahaman pada responden bahwa jawaban dari mereka sangat penting.
Kata pengantar dalam kuesioner banyak pengaruhnya terhadap keberhasilan kuesioner tersebut. Kata-kata yang digunakan juga sangat mempengaruhi responden dalam menjawabnya. Misalnya, kata pengantar yang kasar tentu tidak akan mendapat simpati responden, bahkan mungkin ditolak. Untuk itu, disarankan, gunakan kata-kata yang sopan, wajar, menghormat, dan jangan terlalu panjang. Cukuplah misalnya, beberapa kalimat pengantar, tujuan, dan ucapan terima kasih atas kesediaan responden untuk menjawabnya.
Dalam surat pengantar kuesioner harus memuat beberapa point penting antara lain:
a.     Maksud/tujuan penelitian
b.     Pentingnya penelitian yang dilakukan
c.      Batas waktu dan cara pengembalian
d.     Kesiapan untuk menerima masukan
e.     Penawaarn untuk memberikan informasi hasil penelitian
f.          Ucapan terima kasih kepada responden

7.     Tindak lanjut
Beberapa hari setelah batas waktu yang ditentukan dalam surat pengantar, peneliti dapat menghubungi responden dengan mengirimkan surat tindak lanjut disertai salinan kuesioner yang lain. Karena surat pengantar yang pertama tidak berhasil untuk kelompok non responden. Bila menggunakan pendekatan pribadi pada surat pertama, maka dapat dicoba menggunakan pendekatan profesional pada surat tindak lanjut pertama.
Keberhasilan surat tindak lanjut terletak pada pendekatan yang diyakini oleh peneliti bahwa individu yang diharap dapat mengisi kuesioner, tetapi mungkin karena beberapa kelalaian atau kesalahan dalam riset berakibat hasilnya gagal diamati . Kemudian surat tindak lanjutnya menyebutkan lagi pentingnya studi dan nilai kontribusi pribadi, dengan menggunakan kalimat yang berbeda dan memberi penekanan terhadap surat awal.  Sebaiknya menggunakan pendekatan dan bahasa yang agak berbeda untuk meyakinkan  pada responden pentingnya kontribusi dari mereka untuk mengisi kuesioner tersebut.

8.     Menganalisis data kuesioner
Peneliti yang mempelajari penelitian kualitatif pembelajaran pada lembaga pendidikan tinggi di Amerika mengikuti pendekatan khusus untuk menganalisis data kuesioner.
Semua jawaban (pilihan) diberi kode dan dimasukkan ke dalam program analisis ecstatic untuk data kualitatif. Prosedur ini memudahkan penentuan prosentase, mean (rata-rata), range dan tabulasi silang. Semua komentar dan jawaban tertutup dimasukkan seluruhnya ke dalam analisis teks ethnograf yang memudahkan pengkodean dan pemilihan kata-kata responden sehingga polanya dapat dipastikan.
Data kuantitatif dianalisa untuk menghasilkan frekuensi dan prosentase dari pengecekan setiap kategori jawaban pada pertanyaan tertutup tertentu.
Pada umumnya diasumsikan bahwa kuesioner dan interview yang sesuai atau paling sesuai untuk riset deskriptif , kenyataanya kuesioner dan interview dapat digunakan untuk berbagai disain riset.
Glesne dan web menyertakan beberapa komentar dari responden dalam merespon pertanyaan. Dengan cara ini pembaca mendapatkan gambaran  perspektif emic yaitu perspektif para responden terhadap fenomena yang sedang dipelajari. Contohnya disertakan komentar dari responden tentang pertanyaan terbuka mengenai ketertarikan mereka terhadap pengajaran kursus metode riset kualitatif.
Data kuantitatif yang dikumpulkan melalui kuesioner dapat dianalisa dengan metoda statistik  (menggunakan bantuan komputer dengan software program SPSS for window s versi 10) untuk data kuantitatif, sedang data kualitatif  menggunakan  tiga jalur analisis  yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan ( Miles dan Huberman, 1992)

Tugas Bahasa Indonesia 2 " Hipotesis "



Hipotesis
1.         Pengertian Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap suatu masalah. Jawaban tersebut masih perlu diuji kebenarannya. Seorang peneliti pasti akan mengamati sesuatu gejala, peristiwa, atau masalah yang menjadi focus perhatiannya. Sebelum mendapatkan fakta yang benar, mereka akan membuat dugaan tentang gejala, peristiwa, atau masalah yang menjadi titik perhatiannya tersebut.

  2. Ciri-Ciri Hipotesis yang Baik
Sebuah hipotesis atau dugaan sementara yang baik hendaknya mengandung beberapa hal.
Hal – hal tersebut diantaranya :
1) Hipotesis harus mempunyai daya penjelas
2) Hipotesis harus menyatakan hubungan yang diharapkan ada di antara variabel-variabel-variabel.
3) Hipotesis harus dapat diuji
4) Hipotesis hendaknya konsistesis dengan pengetahuan yang sudah ada.
5) Hipotesis hendaknya dinyatakan sesederhana dan seringkas mungkin.
4. Manfaat dari Hipotesis
Hipotesis merupakan elemen penting dalam penelitian ilmiah, khususnya penelitian kuantitatif. Terdapat tiga alasan utama yang mendukung pandangan ini, di antaranya
  1. Hipotesis dapat dikatakan sebagai piranti kerja teori. Hipotesis ini dapat dilihat dari teori yang digunakan untuk menjelaskan permasalahan yang akan diteliti. Misalnya, sebab dan akibat dari konflik dapat dijelaskan melalui teori mengenai konflik.
  2. Hipotesis dapat diuji dan ditunjukkan kemungkinan benar atau tidak benar atau di falsifikasi.
  3. Hipotesis adalah alat yang besar dayanya untuk memajukan pengetahuan karena membuat ilmuwan dapat keluar dari dirinya sendiri. Artinya, hipotesis disusun dan diuji untuk menunjukkan benar atau salahnya dengan cara terbebas dari nilai dan pendapat peneliti yang menyusun dan mengujinya.

5.      Hipotesis dalam penelitian

Walaupun hipotesis penting sebagai arah dan pedoman kerja dalam penelitian, tidak semua penelitian mutlak harus memiliki hipotesis.Penggunaan hipotesis dalam suatu penelitian didasarkan pada masalah atau tujuan penelitian. Dalam masalah atau tujuan penelitian tampak apakah penelitian menggunakan hipotesis atau tidak. Contohnya yaitu Penelitian eksplorasi yang tujuannya untuk menggali dan mengumpulkan sebanyak mungkin data atau informasi tidak menggunakan hipotesis. Hal ini sama dengan penelitian deskriptif, ada yang berpendapat tidak menggunakan hipotesis sebab hanya membuat deskripsi atau mengukur secara cermat tentang fenomena yang diteliti, tetapi ada juga yang menganggap penelitian deskriptif dapat menggunakan hipotesis. Sedangkan, dalam penelitian penjelasan yang bertujuan menjelaskan hubungan antar-variabel adalah keharusan untuk menggunakan hipotesis.
Fungsi penting hipotesis di dalam penelitian, yaitu:
  1. Untuk menguji teori,
  2. Mendorong munculnya teori,
  3. Menerangkan fenomena sosial,
  4. Sebagai pedoman untuk mengarahkan penelitian,
  5. Memberikan kerangka untuk menyusun kesimpulan yang akan dihasilkan.

6.       MACAM-MACAM HIPOTESIS
Menurut bentuknya, Hipotesis dibagi menjadi tiga
1. Hipotesis penelitian / kerja: Hipotesis penelitian merupakan anggapan dasar peneliti terhadap suatu masalah yang sedang dikaji.Dalam Hipotesis ini peneliti mengaggap benar Hipotesisnya yang kemudian akan dibuktikan secara empiris melalui pengujian Hipotesis dengan mempergunakan data yang diperolehnya selama melakukan penelitian.Misalnya: Ada hubungan antara krisis ekonomi dengan jumlah orang stress.


2. Hipotesis operasional: Hipotesis operasional merupakan Hipotesis yang bersifat obyektif.
Artinya peneliti merumuskan Hipotesis tidak semata-mata berdasarkan anggapan dasarnya, tetapi juga berdasarkan obyektifitasnya, bahwa Hipotesis penelitian yang dibuat belum tentu benar setelah diuji dengan menggunakan data yang ada. Untuk itu peneliti memerlukan Hipotesis pembanding yang bersifat obyektif dan netral atau secara teknis disebut Hipotesis nol (H0).H0 digunakan untuk memberikan keseimbangan pada Hipotesis penelitian karena peneliti meyakini dalam pengujian nanti benar atau salahnya Hipotesis penelitian tergantung dari bukti-bukti yang diperolehnya selama melakukan penelitian.
Contoh: H0: Tidak ada hubungan antara krisis ekonomi dengan jumlah orang stress.

3. Hipotesis statistik: Hipotesis statistik merupakan jenis Hipotesis yang dirumuskan dalam bentuk notasi statistik.
Hipotesis ini dirumuskan berdasarkan pengamatan peneliti terhadap populasi dalam bentuk angka-angka (kuantitatif).
Misalnya: H0: r = 0; atau H0: p = 0
Referensi :
1.       http://id.wikipedia.org/wiki/Hipotesis

Tugas Bahasa Indonesia 2 Softskill " Karya Ilmiah "



Pengertian Karya Ilmiah
“Karangan ilmiah merupakan suatu karangan atau tulisan yang diperoleh sesuai dengan sifat keilmuannya dan didasari oleh hasil pengamatan, peninjauan, penelitian dalam bidang tertentu, disusun menurut metode tertentu dengan sistematika penulisan yang bersantun bahasa dan isisnya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya/ keilmiahannya.”—Eko Susilo, M. 1995:11
Tujuan dari pembuatan karangan ilmiah, antara lain :
  • Memberi penjelasan
  • Memberi komentar atau penilaian
  • Memberi saran
  • Menyampaikan sanggahan
  • Membuktikan hipotesa
Karya ilmiah adalah suatu karya dalam bidang ilmu pengetahuan (science) dan teknologi yang berbentuk ilmiah. Suatu karya dapat dikatakan ilmiah apabila proses perwujudannya lewat metode ilmiah. Jonnes (1960) memberikan ketentuan ilmiah, antara lain dengan sifat fakta yang disajikan dan metode penulisannya.
Bila fakta yang disajikan berupa fakta umum yang obyektif dan dapat dibuktikan benar tidaknya serta ditulis secara ilmiah, yaitu menurut prosedur penulisan ilmiah, maka karya tulis tersebut dapat dikategorikan karya ilmiah, sedangkan bilamana fakta yang disajikan berupa dakta pribadi yang subyektif dan tidak dapat dibuktikan benar tidaknya serta tidak ditulis secara ilmiah, karya tulis tersebut termasuk karya tulis non ilmiah.
Ciri-Ciri Karya Ilmiah
1. Struktur Sajian
Struktur sajian karya ilmiah sangat ketat, biasanya terdiri dari bagian awal (pendahuluan), bagian inti (pokok pembahasan), dan bagian penutup. Bagian awal merupakan pengantar ke bagian inti, sedangkan inti merupakan sajian gagasan pokok yang ingin disampaikan yang dapat terdiri dari beberapa bab atau subtopik. Bagian penutup merupakan kesimpulan pokok pembahasan serta rekomendasi penulis tentang tindak lanjut gagasan tersebut.
2. Komponen dan Substansi
Komponen karya ilmiah bervariasi sesuai dengan jenisnya, namun semua karya ilmiah mengandung pendahuluan, bagian inti, penutup, dan daftar pustaka. Artikel ilmiah yang dimuat dalam jurnal mempersyaratkan adanya abstrak.
3. Sikap Penulis
Sikap penulis dalam karya ilmiah adalah objektif, yang disampaikan dengan menggunakan gaya bahasa impersonal, dengan banyak menggunakan bentuk pasif, tanpa menggunakan kata ganti orang pertama atau kedua.
4. Penggunaan Bahasa
Bahasa yang digunakan dalam karya ilmiah adalah bahasa baku yang tercermin dari pilihan kata / istilah, dan kalimat-kalimat yang efektif dengan struktur yang baku.
Macam – macam  Karya Tulis Ilmiah
1. Artikel
Dalam istilah jurnalistik, artikel adalah tulisan berisi pendapat subjektif penulisanya tentang suatu masalah atau peristiwa. Dalam konteks ilmiah, artikel adalah karya tulis yang dirancang untuk dimuat dalam jurnal atau buku kumpulan artikel yang ditulis dengan tata cara ilmiah dan mengikuti pedoman atau konvensi ilmiah yang telah disepakati. Artikel ilmiah diangkat dari hasil pemikiran dan kajian pustaka atau hasil pengembangan proyek.
Sistematika Artikel:
  1. Judul
  2. Nama Penulis – tanpa gelar akademik
  3. Abstrak –ringkasan tulisan, gambaran umum isi artikel.
  4. Kata Kunci –3-5 keywords.
  5. Pendahuluan — latar belakang masalah dan rumusan singkat (1-2 kalimat) pokok bahasan dan tujuannya.
  6. Kerangka Teori (Kajian Teori) –dasar teori yang menjadi acuan.
  7. Pembahasan –kupasan, analisis, argumentasi, komparasi, keputusan, dan pendirian atau sikap penulis
  8. Penutup – simpulan dan saran
  9. Daftar Pustaka
2. Makalah
Makalah adalah karya tulis ilmiah yang menyajikan suatu masalah yang pembahasannya berdasarkan data di lapangan yang bersifat empiris-objektif. Makalah biasanya disajikan dalam sebuah seminar atau dipresentasikan di kelas (tugas perkuliahan).
Makalah juga diartikan sebagai karya ilmiah mahasiswa mengenai suatu topik tertentu yang tercakup dalam ruang lingkup suatu perkuliahan. Makalah mahasiswa umumnya merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan suatu perkuliahan, baik berupa kajian pustaka maupun hasil kegiatan perkuliahan lapangan.
Pengertian yang lain dari makalah adalah karya tulis yang memuat pemikiran tentang suatu masalah atau topik tertentu yang ditulis secara sistematis dan runtut dengan disertasi analisis yang logis dan objektif. Makalah ditulis untuk memenuhi tugas terstruktur yang diberikan oleh dosen atau ditulis atas inisiatif sendiri untuk disajikan dalam forum ilmiah.
Sistematika Makalah:
  1. Pendahuluan
  2. Pembahasan
  3. Kesimpulan


3. Kertas Kerja
Kertas kerja (work paper) pada prinsipnya sama dengan makalah, namun dibuat dengan analisis lebih dalam dan tajam dan dipresentasikan pada seminar atau lokakarya yang biasanya dihadiri oleh ilmuwan. Kertas kerja itu menjadi acuan untuk tujuan tertentu dan bisa diterima atau dimentahkan oleh forum ilmiah.
4. Paper
Paper adalah sebutan khusus untuk makalah di kalangan akademisi (mahasiswa) dalam kaitannya dengan pembelajaran dan pendidikannya sebelum menyelesaikan jenjang studi (Diploma/S1/S2/S3). Sistematika penulisannya sama dengan artikel atau makalah, tergantung panduan yang berlaku di perguruan tinggi masing-masing.
5. Skripsi
Skripsi adalah karya tulis ilmiah mahasiswa untuk menyelesaikan jenjang studi S1 (Sarjana). Skripsi berisi tulisan sistematis yang mengemukakan pendapat penulis berdasarkan pendaagt (teori) orang lain. Pendapat yang diajukan harus didukung oleh data dan fakta empiris-objektif, baik bedasarkan penelitian langsung (obsevasi lapangan, atau percobaan di laboratorium), juga diperlukan sumbangan material berupa temuan baru dalam segi tata kerja, dalil-dalil, atau hukum tertentu tentang salah satu aspek atau lebih di bidang spesialisasinya.
6. Tesis
Tesis adalah karya tulis ilmiah mahasiswa untuk menyelesaikan jenjang studi S2 (Pasca Sarjana) yang sifatnya lebih mendalam dibandingkan dengan skripsi. Tesis mengungkapkan pengetahuan baru yang diperoleh dari penelitian sendiri.
7. Disertasi
Disertasi –disebut juga “Ph.D Thesis”– adalah karya tulis ilmiah mahasiswa untuk menyelesaikan jenjang studi S3 (meraih gelar Doktor/Dr) yang mengemukakan suatu dalil yang dapat dibuktikan oleh penulis berdasarkan data dan fakta yang sahih (valid) dengan analisis yang terinci). Disertasi ini berisi suatu temuan penulis sendiri, yang berupa temuan orisinal.
8. Artikel Ilmiah Populer
Selain ketujuh jenis karya ilmiah, ada juga yang disebut artikel ilmiah populer, yaitu artikel ilmiah yang ditulis dengan gaya bahasa populer (bahasa media/bahasa jurnalistik) untuk dimuat di media massa (suratkabar, majalah, tabloid).
Berbeda dengan artikel ilmiah, artikel ilmiah popular tidak terikat secara ketat dengan aturan penulisan ilmiah. Artikel ilmiah ditulis lebih bersifat umum, untuk konsumsi publik. Dinamakan ilmiah populer karena ditulis bukan untuk keperluan akademik, tetapi untuk “dikomunikasikan” kepada publik melalui media massa.
Artikel ilmiah populer bisa hasil penelitian ilmiah, namun disajikan dengan lebih ringkas dan lugas, bisa pula dibuat berdasarkan berpikir deduktif atau induktif, atau gabungan keduanya yang bisa ‘dibungkus’ dengan opini penulis.


Sikap Ilmiah
Dalam penulisan karya ilmiah, terdapat 7 sikap ilmiah yang merupakan sikap yang harus ada. Sikap-sikap ilmiah tersebut adalah sebagai berikut :
1)    Sikap ingin tahu
Sikap ingin tahu ini terlihat pada kebiasaan bertanya tentang berbagai hal yang berkaitan dengan bidang kajiannya.
2)    Sikap kritis
Sikap kritis ini terlihat pada kebiasaan mencari informasi sebanyak mungkin berkaitan dengan bidang kajiannya untuk dibanding-banding kelebihan -kekurangannya, kecocokan-tidaknya, kebenaran-tidaknya, dan sebagainya.
3)    Sikap obyektif
Sikap objektif ini terlihat pada kebiasaan menyatakan apa adanya, tanpa diikuti perasaan pribadi.
4)    Sikap ingin menemukan
Selalu memberikan saran-saran untuk eksperimen baru. Kebiasaan menggunakan eksperimen-eksperimen dengan cara yang baik dan konstruktif. Selalu memberikan konsultasi yang baru dari pengamatan yang dilakukannya.
5)    Sikap menghargai karya orang lain
Sikap menghargai karya orang lain ini terlihat pada kebiasaan menyebutkan sumber secara jelas sekiranya pernyataan atau pendapat yang disampaikan memang berasal dari pernyataan atau pendapat orang lain.
6)    Sikap tekun
Tidak bosan mengadakan penyelidikan, bersedia mengulangi eksperimen yang hasilnya meragukan, tidak akan berhenti melakukan kegiatan-kegiatan apabila belum selesai. Terhadap hal-hal yang ingin diketahuinya ia berusaha bekerja dengan teliti.
7)    Sikap terbuka
Sikap terbuka ini terlihat pada kebiasaan mau mendengarkan pendapat, argumentasi, kritik, dan keterangan orang lain, walaupun pada akhirnya pendapat, argumentasi, kritik, dan keterangan orang lain tersebut tidak diterima karena tidak sepaham atau tidak sesuai.
Referensi :
  1. Dwiloka, Bambang. 2005. Teknik Menulis Karya Ilmiah. Penerbit Rineka Cipta
  2. Hariwijaya, M. 2008. Pedoman Penulisan Ilmiah Proposal dan Skripsi. Tugu Publisher
  3. Farkhan, M. 2006. Penulisan Karya Ilmiah. Jakarta: Penerbit Cella.
  4. Sudjana, N. 1988. Tuntunan penyusunan karya ilmiah: makalah-skripsi-tesis-disertasi. Sinar Baru.
  5. Nasuhi, H. . dkk. 2007. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis, dan Disertasi)Jakarta: CeQDA.